Arsip Blog

Senin, 18 Agustus 2014

JAM KERJA DAN WAKTU KERJA (SEKTOR SWASTA)


Pertanyaan mengenai jam kerja di Indonesia

Sungguh sangat lah melelahkan bukan, bila kita diharuskan bekerja berjam-jam di dalam dan di luar kantor sehari-hari, bahkan ada yang sampai kerja lembur. Bagaimana dengan upah lembur kita? Berapa sih upah yang sesuai untuk jam kerja kita tersebut? Belum lagi, di sela-sela jam kerja itu, karyawan juga berhak untuk mendapat jam istirahat dan waktu untuk beribadah.
Pertanyaan – pertanyaan tersebut pasti sering terlintas di pikiran anda.
Sekarang, mari kita tela’ah bersama ya.



I. Jam kerja kita dalam sehari?
 
==> Untuk karyawan yang bekerja 6 hari dalam
        seminggu, jam kerjanya adalah 7 jam dalam 1
        hari dan 40 jam dalam 1 minggu.
==> Sedangkan untuk karyawan dengan 5 hari
        kerja dalam 1 minggu, kewajiban bekerja
        mereka 8 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam
        1 minggu.

Semua tertera dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85.


Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja/buruh berhak atas upah lembur.

Akan tetapi, ketentuan waktu kerja tersebut tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu seperti misalnya pekerjaan di pengeboran minyak lepas pantai, sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan di kapal (laut), atau penebangan hutan.

II. Apa yang dimaksud dengan waktu kerja lembur?


Waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari untuk 6 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau 8 jam sehari untuk 8 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah (Pasal 1 ayat 1 Peraturan Menteri no.102/MEN/VI/2004).

Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam/hari dan 14 jam dalam 1 minggu diluar istirahat mingguan atau hari libur resmi.


INI HANYA SEKEDAR INFORMASI BUKAN PROVOKASI !!!

Selasa, 12 Agustus 2014

HUKUM JUAL BELI EMAS SECARA KREDIT/ NYICIL

Pada perkembangan jaman ini , banyak sekali bermunculan beragam jenis dan model bisnis.
Salah satu bisnis yang marak adalah jual beli "emas"!!!
Yang menjadi pertanyaan, apakah bisnis jual beli emas ini sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah agama islam ?
Untuk menentukan hukum jual beli emas, maka terlebih dahulu kita harus memahami apakah emas termasuk barang ribawi ? Maksudnya barang ribawi adalah barang yang berlaku padanya riba dan kita dilarang melakukan perbuatan ribawi padanya.

Untuk menentukan hukum jual beli emas, maka terlebih dahulu kita harus memahami apakah emas termasuk barang ribawi ?
Maksudnya barang ribawi adalah barang yang berlaku padanya riba dan kita dilarang melakukan perbuatan ribawi padanya.

1. Pengertian Riba
Riba secara bahasa : tambahan (ziyadah), adapun secara istilah :
أن الربا: الزيادة عند مبادلة الأصناف الربوية بعضها ببعض، الزيادة عند مبادلة الأصناف الربوية ببعضها إذا كانت من جنس واحد، وتأجيل القبض في العوضين أو في أحدهما في هذه الأصناف.
Riba adalah tambahan pada saat tukar-menukar (mubadalah)  sebagian barang-barang ribawi (al-ashnaf ar-ribawiyah) dengan sebagian lainnya, tambahan ketika tukar – menukar sebagian diantaranya jika ia dari satu jenis, dan mengakhirkan (at-ta’jiil) serah – terima (al-qabdh) pada kedua barang pengganti (al-iwadhain) atau pada salah satu dari keduanya dari barang-barang ribawi ini. 

2. Macam Barang Ribawi
Nabi SAW telah menyebutkan ada 6 barang yang termasuk barang ribawi seperti hadis berikut :
)  الذهب بالذهب مثلا بمثل والفضة بالفضة مثلا بمثل والتمر بالتمر مثلا بمثل، والبر بالبر مثلا بمثل، والملح بالملح مثلاً بمثل، والشعير بالشعير مثلاً بمثل، فمن زاد او ازداد فقد أربى، بيعوا الذهب بالفضة كيف شتم يدا بيد وبيعوا الشعير بالتمر كيف شئتم يدا بيد(
Artinya : 
“Emas dengan emas harus sama, perak dengan perak harus sama/semisal, kurma dengan kurma harus sama, gandum dengan gandum harus sama, garam dengan garam harus sama/semisal, jewawut dengan jewawut harus sama/semisal. Barangsiapa yang menambah atau minta ditambah maka dia mengambil riba. Jual-lah emas dengan dengan perak sesuka kalian tapi secara tunai/kontan, dan jual-lah jewawut dengan kurma sesuka kalian tapi secara tunai/kontan” (HR At-Tirmidzi no. 1240).

Dari sini, nampak jelas bahwa riba terdapat pada jenis-jenis (barang) tertentu yang telah dibatasi oleh hadits nabawi diatas yaitu : emas, perak, kurma, biji gandum (al-burr), jewawut (asy-sya’ir), garam (al-milh) dan biji anggur kering (az-zabib).

Inilah jenis-jenis barang ketika diperjualbelikan salah satu darinya dengan jenisnya, contoh emas atau perak, kemudian saling bertukar antara jenis emas dengan emas lainnya. 
Maka menjual emas dengan emas, harus sama (tamatsul), setara (musawat), serupa (tasawi) antara 2 barang yang ditukar (Al-badalain). Jika salah satu barang yang ditukar melebihi barang lainnya, maka tambahan itu adalah riba.

Walhasil, riba adalah tambahan pada saat tukar-menukar antara barang-barang ribawi dengan jenisnya, atau mengakhirkan/menangguhkan proses tukar-menukar barang-barang ribawi, apakah berupa barang pengganti (iwadhani) dari jenis yang sama atau dari jenis yang berbeda. (Maktabah Akademiyah – Fiqh Muamalat Ad-Dars Al-Khamis : Bab Riba, hal. 7-10, oleh DR Abdullah Al-Amar)

Berikut juga terdapat sejumlah dalil khusus yang menjelaskan riba dalam barang-barang tertentu termasuk emas, dan tidak diperbolehkan perbuatan riba (fi’lu ar-riba) pada barang-barang tersebut:

الحديث الأول: حديث عبادة: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: (الذهب بالذهب، الفضة بالفضة، البر بالبر، الشعير بالشعير، التمر بالتمر، الملح بالملح مثلاً بمثلٍ سواءً بسواءٍ) (مثلاً بمثل) معناها ماذا؟ معناها سواءً بسواء، ولكن هذا من باب التأكيد والتشديد في شأن الربا، (مثلاً بمثلٍ سواءً بسواء، فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يداً بيد) يعني إذا إذا بيع الجنس بجنسه فلابد من أمرين:
Hadis pertama : hadis  ubadah : telah bersabda Rasul SAW : “Emas dengan emas, perak dengan perak, biji gandum dengan biji gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam harus semisal dan sama”.
Makna Matsalan bimitslin : sawa’an bi sawa’in, tapi ini dalam konteks penekanan (ta’kid) dan penegasan (tasydid) dalam hal riba.

Menjualbelikan emas secara kredit hukumnya haram. 
Karena emas termasuk salah satu barang ribawi yang jika dijualbelikan harus dilakukan secara kontan (yadan bi yadin). Yaitu tidak boleh bertempo (nasi`ah) atau secara kredit.