Salah satu bisnis yang marak adalah jual beli "emas"!!!
Yang menjadi pertanyaan, apakah bisnis jual beli emas ini sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah agama islam ?
Untuk menentukan hukum jual beli emas, maka terlebih dahulu kita harus memahami apakah emas termasuk barang ribawi ? Maksudnya barang ribawi adalah barang yang berlaku padanya riba dan kita dilarang melakukan perbuatan ribawi padanya.
Untuk menentukan hukum jual beli emas, maka terlebih dahulu kita harus memahami apakah emas termasuk barang ribawi ?
Maksudnya barang ribawi adalah barang yang berlaku padanya riba dan kita dilarang melakukan perbuatan ribawi padanya.
1. Pengertian Riba
Riba secara bahasa : tambahan (ziyadah), adapun secara istilah :
أن الربا: الزيادة عند مبادلة
الأصناف الربوية بعضها ببعض، الزيادة عند مبادلة الأصناف الربوية ببعضها
إذا كانت من جنس واحد، وتأجيل القبض في العوضين أو في أحدهما في هذه
الأصناف.
Riba adalah tambahan pada saat
tukar-menukar (mubadalah) sebagian barang-barang ribawi (al-ashnaf
ar-ribawiyah) dengan sebagian lainnya, tambahan ketika tukar – menukar
sebagian diantaranya jika ia dari satu jenis, dan mengakhirkan
(at-ta’jiil) serah – terima (al-qabdh) pada kedua barang pengganti
(al-iwadhain) atau pada salah satu dari keduanya dari barang-barang
ribawi ini.
2. Macam Barang Ribawi
Nabi SAW telah menyebutkan ada 6 barang yang termasuk barang ribawi seperti hadis berikut :
) الذهب بالذهب مثلا بمثل والفضة
بالفضة مثلا بمثل والتمر بالتمر مثلا بمثل، والبر بالبر مثلا بمثل، والملح
بالملح مثلاً بمثل، والشعير بالشعير مثلاً بمثل، فمن زاد او ازداد فقد
أربى، بيعوا الذهب بالفضة كيف شتم يدا بيد وبيعوا الشعير بالتمر كيف شئتم
يدا بيد(
Artinya :
“Emas dengan emas harus sama,
perak dengan perak harus sama/semisal, kurma dengan kurma harus sama,
gandum dengan gandum harus sama, garam dengan garam harus sama/semisal,
jewawut dengan jewawut harus sama/semisal. Barangsiapa yang menambah
atau minta ditambah maka dia mengambil riba. Jual-lah emas dengan dengan
perak sesuka kalian tapi secara tunai/kontan, dan jual-lah jewawut
dengan kurma sesuka kalian tapi secara tunai/kontan” (HR At-Tirmidzi no.
1240).
Dari sini, nampak jelas bahwa riba
terdapat pada jenis-jenis (barang) tertentu yang telah dibatasi oleh
hadits nabawi diatas yaitu : emas, perak, kurma, biji gandum (al-burr),
jewawut (asy-sya’ir), garam (al-milh) dan biji anggur kering (az-zabib).
Inilah jenis-jenis barang ketika
diperjualbelikan salah satu darinya dengan jenisnya, contoh emas atau
perak, kemudian saling bertukar antara jenis emas dengan emas lainnya.
Maka menjual emas dengan emas, harus sama (tamatsul), setara (musawat),
serupa (tasawi) antara 2 barang yang ditukar (Al-badalain). Jika salah satu barang yang ditukar melebihi barang lainnya, maka tambahan itu adalah riba.
Walhasil,
riba adalah tambahan pada saat tukar-menukar antara barang-barang
ribawi dengan jenisnya, atau mengakhirkan/menangguhkan proses
tukar-menukar barang-barang ribawi, apakah berupa barang pengganti
(iwadhani) dari jenis yang sama atau dari jenis yang berbeda. (Maktabah Akademiyah – Fiqh Muamalat Ad-Dars Al-Khamis : Bab Riba, hal. 7-10, oleh DR Abdullah Al-Amar)
Berikut juga terdapat sejumlah dalil
khusus yang menjelaskan riba dalam barang-barang tertentu termasuk emas,
dan tidak diperbolehkan perbuatan riba (fi’lu ar-riba) pada
barang-barang tersebut:
الحديث الأول: حديث عبادة: قال
رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: (الذهب بالذهب، الفضة بالفضة، البر بالبر،
الشعير بالشعير، التمر بالتمر، الملح بالملح مثلاً بمثلٍ سواءً بسواءٍ)
(مثلاً بمثل) معناها ماذا؟ معناها سواءً بسواء، ولكن هذا من باب التأكيد
والتشديد في شأن الربا، (مثلاً بمثلٍ سواءً بسواء، فإذا اختلفت هذه الأصناف
فبيعوا كيف شئتم إذا كان يداً بيد) يعني إذا إذا بيع الجنس بجنسه فلابد من
أمرين:
Hadis pertama : hadis ubadah : telah
bersabda Rasul SAW : “Emas dengan emas, perak dengan perak, biji gandum
dengan biji gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam
dengan garam harus semisal dan sama”.
Makna Matsalan bimitslin : sawa’an bi sawa’in, tapi ini dalam konteks penekanan (ta’kid) dan penegasan (tasydid) dalam hal riba.
Menjualbelikan emas secara kredit hukumnya haram.
Karena emas termasuk
salah satu barang ribawi yang jika dijualbelikan harus dilakukan secara
kontan (yadan bi yadin). Yaitu tidak boleh bertempo (nasi`ah) atau secara kredit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar